Kuliner khas Betawi tidak hanya dikenal lewat kerak telor atau soto Betawi yang sudah populer, tetapi juga lewat banyak hidangan lama yang dulu akrab di rumah-rumah warga Jakarta. Sayangnya, sebagian makanan tradisional itu kini mulai sulit dijumpai karena perubahan gaya hidup, berkurangnya pembuat asli, dan makin sempitnya ruang bagi masakan rumahan untuk bertahan di tengah arus kuliner modern.
Di balik rasanya yang khas, tiap hidangan Betawi biasanya membawa cerita tentang keluarga, perayaan, hingga kebiasaan makan masyarakat tempo dulu. Yuk simak beberapa sajian yang mulai jarang terlihat, padahal punya nilai rasa dan budaya yang sangat kuat.
Mengapa Kuliner Khas Betawi Makin Jarang Ditemui
Ada beberapa alasan mengapa makanan tradisional Betawi mulai kehilangan tempat. Salah satunya adalah proses memasak yang tidak selalu praktis. Banyak menu lama membutuhkan bumbu yang cukup banyak, waktu masak yang panjang, dan teknik tertentu yang tidak semua orang muda lagi kuasai.
Selain itu, perubahan wajah kota juga ikut berpengaruh. Lingkungan yang dulu menjadi pusat kehidupan masyarakat Betawi terus berubah, sehingga pola makan keluarga ikut bergeser. Makanan cepat saji, menu viral, dan hidangan yang lebih ringkas perlahan mengambil ruang yang dulu diisi oleh sajian tradisional.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah regenerasi. Tidak semua resep diwariskan dengan lengkap, dan tidak semua generasi baru tertarik untuk memasak menu lama yang dianggap rumit. Akibatnya, beberapa makanan hanya muncul saat acara tertentu, bahkan ada yang tinggal dikenal lewat cerita orang tua.
Sajian Lama yang Patut Diingat Lagi
Beberapa hidangan Betawi masih bisa ditemukan, tetapi jumlahnya tidak sebanyak dulu. Ada juga yang justru hanya dikenal oleh kalangan tertentu karena sudah jarang dijual secara umum.
Sayur Babanci
Sayur babanci sering disebut sebagai salah satu masakan Betawi yang cukup langka. Meski namanya mengandung kata “sayur”, hidangan ini justru dikenal sebagai kuah kaya rempah dengan rasa gurih yang kompleks. Isinya bisa berupa daging dan pelengkap lain, sementara racikan bumbunya terbilang unik dan tidak sederhana.
Karena bahan serta prosesnya cukup panjang, menu ini kini tidak mudah ditemukan di warung makan biasa. Biasanya, sayur babanci lebih mungkin muncul dalam acara adat, perayaan tertentu, atau pada keluarga yang masih menjaga resep turun-temurun.
Gabus Pucung
Gabus pucung adalah contoh lain dari makanan yang punya identitas kuat. Kuahnya gelap karena penggunaan kluwek, sedangkan ikan gabus menjadi bahan utama yang memberi karakter rasa tersendiri. Hidangan ini dulu cukup akrab di meja makan keluarga Betawi, tetapi sekarang mulai jarang terlihat di tempat makan modern.
Banyak orang muda bahkan lebih familiar dengan rawon atau semur daripada menu seperti ini. Padahal, dari segi keunikan rasa, gabus pucung punya ciri yang sangat khas dan berbeda dari kebanyakan masakan berkuah lainnya.
Sengkulun dan Kue-Kue Lama
Saat membahas makanan yang mulai langka, perhatian tidak hanya tertuju pada lauk atau hidangan utama. Kue tradisional Betawi juga mulai semakin sulit dijumpai dalam keseharian. Salah satu yang cukup sering disebut adalah sengkulun, kue berbahan dasar ketan yang punya tekstur legit dan rasa manis yang lembut.
Dulu, kue seperti ini hadir dalam banyak momen keluarga dan hajatan. Sekarang, keberadaannya makin terbatas karena kalah populer dibanding aneka dessert modern yang lebih praktis dipasarkan dan lebih cepat menarik perhatian pembeli.
Perlu Upaya Menjaga Rasa dan Cerita
Menjaga kuliner bukan hanya soal mempertahankan resep, tetapi juga menjaga kebiasaan mengenalnya. Saat orang masih mau mencoba, membeli, memasak, atau sekadar mengenalkan nama-nama hidangan lama kepada generasi berikutnya, peluang makanan tradisional untuk bertahan akan lebih besar.
Dalam konteks ini, kuliner khas Betawi sebenarnya punya potensi besar untuk kembali diperhatikan. Rasanya kuat, identitasnya jelas, dan ceritanya dekat dengan sejarah Jakarta. Yang dibutuhkan adalah ruang agar makanan-makanan ini tidak hanya hadir sebagai simbol budaya, tetapi juga tetap hidup di meja makan.
Festival kuliner, konten edukatif, dukungan terhadap usaha rumahan, sampai kebiasaan memilih makanan tradisional sesekali bisa menjadi langkah kecil yang berarti. Semakin sering diperkenalkan, semakin besar pula kemungkinan generasi baru merasa akrab dengan rasa-rasa tersebut.
Penutup
Hidangan tradisional Betawi menyimpan lebih dari sekadar cita rasa. Di dalamnya ada jejak sejarah, kebiasaan keluarga, dan identitas budaya yang terbentuk selama puluhan tahun. Ketika satu per satu makanan lama mulai sulit ditemukan, yang hilang bukan hanya menu, tetapi juga bagian dari ingatan kolektif sebuah kota.
Karena itu, mengenali kembali makanan Betawi yang mulai langka menjadi langkah penting agar warisan rasa ini tidak benar-benar menghilang. Dari sayur babanci hingga gabus pucung, semuanya layak mendapat perhatian lebih agar tetap dikenal, dinikmati, dan diwariskan.